Kabupaten Pesawaran adalah sebelumnya adalah bagian dari Kabupaten Lampung Selatan. Menjadi kabupaten sendiri sejak tanggal 17 Juli 2007.

Berbagai fakta menarik tentang Pesawaran bisa kita jumpai. Mulai dari kekayaan pantai yang indah, pulau, hutan, air terjun, budaya, dan lainnya.

Sebelum Anda datang berlibur, tidak ada salahnya untuk mengetahui beberapa hal menarik tentang kabupaten yang memiliki luas 1.173,77 km2 ini.

Baca juga:
* Pantai Klara Asyik Buat Piknik Bersama Keluarga

Memiliki Banyak Pantai

Coba hitung ada berapa pantai yang ada di Kabupaten Pesawaran. Jawaban Anda bisa bermacam-macam. Karena memang belum semua pantai yang ada di kabupaten ini dikenal oleh masyarakat banyak.

Pantai-pantai yang sudah dikenal wisatawan antara lain; Pantai Mutun, Pantai Tembikil, Pantai Sari Ringgung, Pantai Dewi Mandapa, Pantai Klara, Pantai Bensam, Pantai Batu Mandi, dan Pantai Teluk Hantu.

Selain pantai-pantai tersebut masih banyak pantai lain. Namun namanya belum sepopuler yang sudah disebutkan di atas. Ada Pantai Pancur Permata, Pantai Centiqi, Pantai Kucing Riang.

Memiliki Banyak Pulau

Bupati Dendi di Pulau Wayang di Pesawaran - 2
Bupati Dendi dengan latar belakang Pulau Wayang. (Foto: Yopie Pangkey)

Kabupaten Pesawaran memiliki banyak pulau. Totalnya 37 pulau.

Tujuh pulau berada di Kecamatan Padang Cermin dan 30 pulau berada di Kecamatan Punduh Pidada.

Pulau-pulau tersebut antara lain; Pulau Pahawang, Pulau Kelagian, Pulau Legundi, Pulau Lelangga, Pulau Tegal, Pulau Mahitam.

Kemudian ada Pulau Lahu, Pulau Tanjung Putus, Pulau Balak, Pulau Lok, Pulau Siuncal, dan lainnya.

Lokasi Transmigrasi Pertama di Era Belanda

Tahu kah Anda kalau Pesawaran menjadi lokasi transmigrasi pertama di Indonesia. Tepatnya pada masa kolonial Belanda di tahun 1905.

Lokasi transmigrasi pertama Indonesia tersebut berada di Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan.

Informasi ini tercantum dalam buku Naskah Sumber Arsip, Penelusuran Sejarah Kolonisasi Desa Bagelen Kecamatan Gedong Tataan Afdeeling Telok Betong (1905-1930).

Proses transmigrasi tersebut dipimpin oleh residen H.G Heyting. Proyek ini disebut kolonisasi masyarakat Kedu di Pulau Jawa ke daerah Gedong Tataan, Telok Betong, Lampung.

Alasan dilakukannya transmigrasi saat itu adalah jumlah produksi dan konsumsi tidak seimbang. Yang menyebabkan tingginya pengangguran dan situasi di Kedu menjadi tidak aman.

Kemudian Pemerintah Hindia Belanda meminta izin kepada pemangku adat Lampung di Padang Ratu Kedondong agar bisa memanfaatkan lahan di Gedong Tataan.

Total 6ribu warga Kedu pindah ke Gedongtataan dari tahun 1905 hingga 1930.

Memiliki Hutan yang Luas

Hutan Mangrove Petengoran Desa Gebang Pesawaran - kelilinglampung.net - Yopie Pangkey
Hutan Mangrove Petengoran di Desa Gebang, Pesawaran. (Foto: Yopie Pangkey)

Pesawaran juga memiliki hutan yang luas. Hutan-hutan tersebut masuk dalam 4 hutan register. Yaitu register 18, register 19, register 20, dan register 21.

Luas dari keseluruhan hutan register yang ada di Pesawaran ini mencapai 32.853 Hektar.

Dalam hutan-hutan tersebut sebagian ada beberapa destinasi wisata. Salah satunya adalah Bukit Kendeng di Desa Sumber Jaya, Kecamatan Way Ratai.

Selain itu, Pesawaran juga memiliki kawasan hutan di pesisirnya. Yaitu berupa hutan mangrove. Luas hutan mangrove Petengoran ini sekitar 113 hektar.

Rumah Adat

Rumah Adat Pesawaran disebut Lamban Balak Agung. Rumah tradisional ini secara umum berbentuk rumah panggung dan memiliki beberapa bagian.

Dilansir dari liputan6.com, bagian pertama disebut Jan. Jan adalah tangga masuk ke rumah panggung. Selanjutnya, ada Lepau atau Bekhanda yang merupakan bagian teras atas depan rumah.

Berlanjut ke Lapang Luakh yang menjadi ruang tamu dan tempat menggelar musyawarah adat. Berikutnya, Lapang Lom yang difungsikan sebagai tempat berkumpul dan berdoa. Ruang pribadi pemilik rumah terdiri dari Bilik Kebik merupakan kamar utama dan Tebelayakh untuk menyebut kamar kedua.

Rumah adat juga memiliki Sekhudu atau ruang belakang yang diperuntukkan bagi ibu-ibu., sementara Panggahk atau loteng rumah biasanya dijadikan tempat penyimpanan barang-barang untuk keperluan ada, barang pecah belah, hingga barang pusaka.

Baca juga:
* Pantai Mutun di Pesawaran Lampung, Favoritnya Wisatawan

Masih di bagian belakang terdapat Dapokh atau dapur yang terbagi menjadi Sekelak sebagai tempat memasak, dan Gakhang, tempat mencuci perabotan dapur. Bagian bawah rumah yang disebut Bah Lamban biasanya digunakan untuk menyimpan hasil panen.